Istanbul (KABARIN) - Duta Besar Lebanon untuk PBB Ahmad Arafa mengatakan Israel terus melakukan pelanggaran harian terhadap perjanjian penghentian permusuhan serta memperingatkan bahwa tindakan tersebut tampaknya bertujuan untuk menggagalkan kebangkitan kembali negara Lebanon.
"Lebanon telah mematuhi gencatan senjata secara penuh dan menyeluruh," kata Arafa dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengenai Lebanon pada Senin (1/6).
Namun, tambahnya, justru Israel terus melakukan pelanggaran setiap hari dan terkadang dalam skala yang sangat besar. Israel terus menjalankan kampanye penghancuran sistematis yang menargetkan desa-desa, kota-kota, dan kawasan permukiman penduduk.
"Israel juga secara sengaja menyerang tenaga medis, rumah sakit, jurnalis, sekolah, infrastruktur, lembaga keamanan, pasukan UNIFIL, tempat ibadah, situs arkeologi yang ditetapkan sebagai warisan dunia, serta banyak target lain yang mencerminkan memori kolektif dan identitas peradaban Lebanon," kata Arafa.
Lebanon mengutuk dengan sekeras-kerasnya dan secara jelas serta tegas praktik-praktik dan pelanggaran Israel tersebut, tegasnya.
"Meskipun Israel kerap menggambarkan tindakannya sebagai bentuk pembelaan diri, klaim tersebut tidak membebaskannya dari kewajibannya berdasarkan hukum humaniter internasional, terutama yang berkaitan dengan prinsip proporsionalitas, pembedaan, dan kehati-hatian tindakan," kata Arafa menanggapi alasan yang sering dikemukakan Israel.
Mengenai pendudukan wilayah Lebanon oleh Israel, Arafa menyatakan pembentukan zona keamanan dan penetapan garis-garis geografis merupakan bentuk pendudukan langsung serta pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.
Dia menilai pelanggaran yang terus berlanjut terjadi karena kurangnya akuntabilitas. Menurut Arafa, hal itu hanya akan memperkuat impunitas yang pada gilirannya akan mendorong pelaku untuk terus mengulangi kejahatan serupa berulang kali.
Arafa menutup pidatonya dengan memuji upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta menegaskan komitmen Lebanon untuk menyediakan kondisi dan persyaratan yang diperlukan guna memastikan keberhasilan upaya tersebut.
Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon meskipun gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April telah disepakati dan kemudian diperpanjang selama 45 hari setelah perundingan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.400 orang telah tewas dalam serangan sejak 2 Maret.
Baru-baru ini, kepala otorita Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pendalaman operasi militer di Lebanon. Pasukan Israel pun menguasai Beaufort Castle, benteng strategis di Lebanon selatan.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026